September 15, 2010

TRANSFORMASI MISI KRISTEN (SEJARAH TEOLOGI MISI YANG MENGUBAH DAN BERUBAH) DAVID J BOSCH = Review dan Catatan Kritis =


A.    REVIEW


David J. Bosch mengawali bukunya dengan memaparkan tentang pemahaman misioner yang ada pada umat Israel pada masa PL. Sifat misioner ini mengalami pergeseran secara signifikan tatkala Yesus dan gereja mula-mula menjalankan pelayanan mereka. PL tidak memberikan paparan kisah tentang pengutusan oleh Allah kepada Israel untuk melintasi batas-batas geografis, keagamaan dan sosial dalam rangka memenangkan mereka ke dalam iman kepada Yahweh. Meskipun demikian, dalam PL dapat ditemui belas kasihan Allah kepada bangsa-bangsa lain. Maka David J. Bosch mengusulkan untuk mencari dokumen misi dalam Alkitab PB. Perjanjian Baru adalah dokumen misi. Refleksi Bosch didasarkan pada studi misiologis dalam Injil Matius, Injil Lukas, Kisah Para Rasul dan kehidupan Paulus yang dipaparkan oleh Lukas maupun dalam surat-surat Paulus kepada jemaat-jemaat.

Matius menuliskan kitab Injilnya dan didialogkan dengan berita-berita dalam PL. Oleh sebab itu Yesus menurut Matius adalah “Musa baru” yang mendapatkan gelar-gelar seperti dalam teks PL  sebagai : Imanuel, Kristus, Anak Daud, Anak Manusia, Anak Domba Allah, dst. Hal-hal ini ditempuh oleh Matius dalam kerangka tujuan misioner yaitu memberitakan kepada orang Yahudi bahwa Yesus adalah Mesias seperti yang dijanjikan para nabi dalam PL.

Lukas mengisahkan tentang pelayanan Yesus yang dilanjutkan dalam pelayanan gereja. Lukas juga mengedepankan karya Roh Kudus dalam pelayanan misioner yang dilakukan baik oleh Yesus maupun oleh gereja. Yesus dan gereja ada dalam jaman yang sama yaitu jaman Roh Kudus. Oleh Matius dan Markus karya Roh Kudus tidak begitu ditonjolkan tapi oleh Lukas karya Roh Kudus sangatlah menonjol. Roh Kuduslah yang memberi Yesus kuasa untuk mengadakan mukjizat. Roh Kuduslah yang membuat para murid dan gereja berani bersaksi. Lukas memaparkan bahwa penginjilan pertama-tama adalah untuk orang Yahudi dan baru setelah itu Injil yang sama diperuntukkan bagi bangsa-bangsa lain.

David J. Bosch juga melakukan studi atas teologi Paulus, betapa Paulus dalam melakukan misinya menggunakan strategi antara lain :
  1. menginjil di daerah di mana injil belum pernah diberitakan.
  2. memilih tempat / lokasi penginjilan yaitu di kota-kota besar.
  3. menghargai budaya setempat.

Pada bab-bab berikutnya, David J. Bosch mengajak pembaca untuk menengok ke belakang dan merunut sejarah misi yang terbagi atas 6 periode antara lain :
  1. Kekristenan perdana
  2. Periode Patristik
  3. Abad Pertengahan
  4. Reformasi
  5. Pencerahan
  6. Era Oikumenis

Pada zaman kekristenan perdana, strategi misi berpindah dari pelayanan penginjilan keliling karismatik / pelayanan pembuat mukjizat dan penyembuh bergeser menjadi pelayanan keteladanan dari orang-orang Kristen perdana. Jadi kehidupan orang-orang Kristen perdana memiliki dimensi misioner yang mencolok sehingga keteladanan orang Kristen, cinta kasih mereka, ketekunan, persekutuan dan kesukacitaan mereka merupakan alat ampuh yang memikat banyak orang kepada Kristus.

Pada Periode Patristik, misi dilakukan oleh gereja dengan cara mewujudkan liturgy ekaristi sebagai pancaran terang kasih dan penarik mereka yang masih dalam kegelapan kepada gereja. Gereja dipahami sebagai tujuan misi dan bukan alat misi. Alat misi adalah liturgy. Teks misi pada jaman ini adalah Yohanes 3 : 16.

Di Abad Pertengahan (600-1500M) keselamatan dipahami hanya ada di dalam gereja (Katolik). Semua orang hanya dapat masuk ke surga bila ia menjadi warga gereja Katolik sebelum ajal mereka. Gereja Kristus adalah satu kawanan dibawah satu gembala yang agung. Oleh sebab itu ketika kaum Donatis mengkritisi gereja Katolik karena mulai duniawi, Injil Lukas 14:23 “Paksalah mereka agar masuk” diberlakukan. Memaksa orang-orang untuk menjadi Katolik kembali bukanlah penganiayaan tetapi sekedar disiplin kepada orang-oreang yang tidak lagi Katolik. Dalam perkembangannya kemudian, teks Lukas 14:23 dikenakan juga untuk pertobatan paksa bagi orang-orang kafir dan Yahudi. Pada Abad Pertengahan ini gereja telah menjadi organisasi yang besar dan berpengaruh. Ia beralih dari sekte Yahudi menjadi penindas sekte-sekte.

Pada jaman Reformasi, pembenaran oleh iman menjadi titik tolak teologi. Ada jarak tak terjembatani antara Allah dan manusia dan hanya karena kasih Allah semata (sola gratia) Ia mengambil inisiatif mengampuni, membenarkan dan menyelamatkan manusia (Roma 1:16). Dengan mengedepankan pembenaran oleh iman, para Reformator menjadi kurang gigih dalam melakukan misi (sepereti definisi misi yang dipahami teolog abad 19 yaitu mencari jiwa-jiwa yang terhilang). Martin Luther percaya bahwa tanpa bantuan manusia Allah mampu membuat seseorang percaya  kepadaNya. Misi merupakan misi Allah dan bukan misi manusia.

Pada awal jaman Pencerahan, rasionalitas telah menjadi raja. Semua hal diyakini dapat dipecahkan dan dijelaskan secara ilmiah, termasuk agama. Segala yang tidak masuk akal ditolak. Pada masa ini, gereja beralih dari pengutamaan penginjilan kepada pengutamaan keterlibatan social seperti pendirian sekolah, rumah sakit-rumah sakit, klinik dan panti asuhan menjadi trend misi Kristen. Dengan rasionalitas, sekularisme, humanisme dan relativisme masuk ke gereja, hal ini mendorong banyak orang muda untuk bangkit dan menggenggam erat “Amanat Agung” dari Matius 28:18-20. Teks ini menyemangati banyak orang untuk kembali menginjili orang-orang yang belum mengenal Yesus.

Pada Era Oikumenis, Missio Dei dipahami sebagai misi Allah Bapa mengutus Yesus Kristus, AnakNya ke dalam dunia. Sekaligus juga dipahami sebagai Allah Bapa dan Anak mengutus Roh Kudus. Bahkan dalam perkembangannya, gagasan ini diperluas menjadi misi Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus mengutus gereja ke dalam dunia. Pada Era Oikumenis muncullah teologi-teologi kontekstual. Konteks budaya dihargai sedemikian rupa dan masalah-masalah ketidakadilan menjadi titik tolak teologi. Teologi-teologi kontekstual bertujuan agar injil dapat lebih berbicara dalam konteks  masyarakatnya yang unik.

Dalam bagian akhir bukunya, David J. Bosch mengusulkan agar pemberian definisi misi (yang masing-masing jaman memberikan definisinya sendiri) didasarkan pada “6 peristiwa keselamatan” utama dalam PB yaitu :
  1. Penjelmaan Kristus.
Penjelmaan Kristus bukan sekedar berkisar pada asal usul Yesus tapi lebih memperhatikan Yesus yang menjadi manusia dan menderita, tabah, setia, taat danmenunjukkan belas kasihan kepada orang-orang marginal. Yesus bukan hanya menawarkan keselamatan tapi juga menderita dan berdarah bersama-sama dengan para korban penindasan.
  1. Kematian Kristus
Yesus yang mati harus selalu dihubungkan dengan penyebab kematianNya. Yesus mati karena karyaNya, pengajaranNYa dan perjuanganNya dalam menyelamatkan orang-orang yang dikasihiNya.
  1. Kebangkitan Kristus
Kebangkitan Yesus adalah kemenanganNya atas kuasa maut dan kehancuran. Sehingga gereja milik Kristus harus hidup pada saat ini sebagai tanda kontradiksi atas kuasa maut dan kehancuran.
  1. Kenaikan Kristus ke Surga
Kenaikan Yesus adalah awal eskatologi yang sedang dimulai. Yesus telah memerintah sebagai Raja sekarang. Pengikut Yesus seharusnya memberikan bukti / mempresentasikan kehidupan yang penuh komitmen pada nilai-nilai kerajaan Allah.
  1. Pencurahan Roh Kudus
Peristiwa Pentakosta adalah era di mana gereja diberi karunia keberanian oleh Roh Kudus untuk bersaksi sehingga gereja hadirbukan untuk dirinya sendiri tetapi untuk dunia. 
  1. Parousia.
Kedatangan Yesus Kristus yang kedua kali memberikan semangat pengharapan bagi gereja dalam menjalankan misinya.


B.     TINJAUAN KRITIS


David J. Bosch telah dengan jelas dan terperinci memaparkan sejarah teologi misi dari 6 jaman yang berbeda. Masing-masing jaman memiliki konteks dan pergumulannya sendiri. Ada kalanya dimana gereja salah dalam menafsirkan kehendak Allah pada dirinya tetapi kemudian dikoreksi oleh generasi berikutnya. Memang gereja bukanlah gereja yang sempurna. Dengan demikian redefinisi misi patutlah dilakukan bukan hanya pada jaman yang berbeda dengan tantangan yang berubah melainkan juga dalam jaman yang sama di konteks yang berbeda di mana Tuhan menempatkan gereja.

David J. Bosch tidak memprediksikan bagaimana wajah misi di era milenium baru sekarang ini. Sebenarnya melalui studi histories teologi misi di 6 masa yang berbeda, kita dapat menemui kecenderungan-kecenderungan arah misi di masa mendatang. Mungkin asumsinya bahwa saat ini di abad XXI (di mana situasinya mengglobal) termasuk dalam kategori era keenam dalam pembatasan paparannya yaitu era oikumenis. 

Menurut saya, abad XXI adalah era yang ketujuh yang belum disinggung oleh Bosch. Era ketujuh ini saya sebut sebagai era transformasi gereja. Di era ini gereja-gereja seharusnya bersatu menyikapi konteks yang sudah berubah. Situasi global, kerusakan alam yang parah, manusia dipahami sebagai obyek ekonomi dan kritis identitas  yang parah menuntut strategi misi yang lebih kontekstual di masa kini. Situasi yang berubah menuntut tanggapan yang berbeda pula. Adalah waktu yang tepat bagi gereja untuk menjadi sahabat bagi alam, dunia dan manusia yang mengalami situasi krisis. Seperti Yesus adalah Sahabat yang baik yang merelakan hidupnya bagi para sahabatNya. Gereja Kristus dipanggil untuk juga menjadi sahabat bagi jaman ini. Menjadi sahabat yang baik.
Bosch tidak menyinggung sedikitpun tentang kerusakan ekologi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar